Rabu, 21 Januari 2009


Playing God.

Dari kecil diajarkan untuk patuh pada guru.
Waktu kecil sih g ada masalah.
Tapi sekarang, jadi pengen nawar pas mengadakan transaksi.


Jadi crita nya sang guru berkata supaya jika naek becak,
nanyak dulu berapa ongkos nya.
Berapapun, jika mampu, terima aj.


Nah, namanya bukan anak2 lagi, pasti dong pngen tau logika di balik kebenaran kata-kata sang guru.

Lama merenung, ahirnya sampailah juga penalaran ini ke muara suatu analogi perdagangan di toko.

Coba bayangkan, jk kita bekerja sbg pegawai, mk qt tau qt hnya akan menerima uang 1 bulan sekali. Qta tidak mengeluh jk setiap hr pulang tnpa menambah isi dompet. Berkurang malah iya, untuk transpor dan uang makan misalnya.

Nah, jk qt seorang pedagang, maka qt benar2 tdk tau berapa uang yang akan qt bw pulang hari itu.
Saya membayangkan Sang Maha Saudagar tersenyum melihat ketulusan seorang pedagang yang pergi dan pulang dengan ikhlas(positive thinking) tanpa tahu berapa uang yang akan didapat.

Tentu saja perbandingan keduanya mempermudah memahami ajaran sang guru untuk tidak menawar harga yang dipathok seorang pedagang ato penyedia jasa. Jika smua transaksi semudah berbelanja di supermarket, barangkali orang tidak akan kesulitan untuk menjaga sikap positif di keseharian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar